Rumah tangga merupakan kantong rahimnya keluarga. Yakni, tempat tumbuh kembang anak, salah satunya dalam menghadapi masa depan yang akan datang. Tidak dapat dipungkiri juga anak akan mengalami proses tumbuh kembang yang baik dan normal karena faktor kedua orang tua.

Mempunyai keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang merupakan kebahagiaan tak terkira bagi seorang anak. Karena selain menjadi tempat paling nyaman untuknya berbagi cerita serta kebahagiaan, keluarga juga menjadi tempat pembentukan karakter yang pertama dan utama bagi mereka. Sehingga baik buruknya perilaku anak lebih banyak dipengaruhi oleh hasil didikan orang tuanya.

Bagi orang tua, kehadiran seorang anak merupakan amanah besar dari Tuhan kepada hamba yang telah dipercayai-Nya. Dengan demikian, menjaga mereka dengan sebaik-baiknya merupakan kewajiban mutlak bagi setiap orang tua. Salah satunya ialah dengan menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga agar anak-anak mereka bisa mendapatkan apa yang telah menjadi haknya.

Akan tetapi, sayangnya tidak semua keluarga bisa memenuhi harapan tersebut. Banyak juga keluarga yang awalnya baik-baik saja kemudian menjadi berantakan seiring munculnya permasalahan dalam rumah tangga mereka. Hal ini ditandai dengan mulai sering terjadinya pertengkaran orang tua, hubungan keluarg yang tidak lagi harmonis, hingga berakhir denga perceraian atau bahkan penelantaran anak. Broken home menjadi istilah umum yang banyak dikenal untuk menyebut keadaan ini.

Dengan berbagai latar belakang yang menjadi penyebab terjadinya broken home tersebut, anak selalu saja menjadi pihak yang paling dirugikan. Baik dari segi jasmani maupun psikis mereka. Berikut adalah beberapa dampak broken home terhadap anak

Masalah emosional

Setelah bercerai, anak-anak dari pra-sekolah hingga akhir masa remaja dapat mengalami defisit dalam perkembangan emosional. Anak-anak dari segala usia mungkin merasakan kesedihan dan depresi, yang merupakan keadaan emosional jangka panjang (dapat bertahan hingga beberapa tahun setelah perceraian orangtua), jelas psikolog Lori Rappaport.

Selain itu, beberapa anak yang lebih tua mungkin menunjukkan reaksi emosional yang sangat sedikit terhadap perpisahan orangtua mereka. Rappaport menjelaskan bahwa hal ini bukanlah tahapan perkembangan yang baik untuk anak. Beberapa anak yang menunjukkan sedikit respon emosional sebenarnya memendam perasaan negatif mereka. Penekanan emosional ini justru dapat membuat orangtua, guru, dan terapis kesulitan untuk membantu anak memproses perasaannya dengan cara yang tepat.

Lalu, sebuah studi oleh Larson&Larson 1990, menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri pada anak lebih tinggi untuk anak broken home dibandingkan dengan anak di keluarga normal. Tidak ada korelasi yang ditemukan antara kematian orangtua dan bunuh diri dari seorang anak. Namun, bunuh diri tampaknya dipicu oleh penolakan anak oleh orangtua.

Terganggunya Pendidikan

Perkembangan akademik yang melambat adalah masalah lain pada anak broken home yang umum dipengaruhi oleh perceraian orangtua. Stres secara emosional saja sudah dapat menghambat kemajuan akademis anak Anda, tetapi perubahan gaya hidup dan ketidakstabilan keluarga yang hancur dapat berkontribusi pada hasil pendidikan yang buruk. Kemajuan akademik yang buruk ini dapat berasal dari sejumlah faktor, termasuk ketidakstabilan di lingkungan rumah, sumber daya keuangan yang tidak memadai, dan rutinitas yang tidak konsisten.

Menurut sebuah studi oleh University of Western Australia, perempuan yang tidak menikah, janda, dan yang telah bercerai akan lebih mungkin untuk memiliki anak dengan cacat intelektual moderat dibandingkan dengan mereka yang memiliki orangtua lengkap.

Masalah sosial

Perceraian mempengaruhi hubungan sosial anak untuk beberapa hal. Akibat perceraian, beberapa anak melepaskan kegelisahan mereka dengan bertindak agresif dan terlibat dalam perilaku bullying (penindasan), yang keduanya merupakan hal negatif dan dapat mempengaruhi hubungan teman sebaya mereka.

Anak-anak lain mungkin mengalami kecemasan, yang dapat membuat mereka sulit untuk mencari interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan perkembangan yang bermanfaat seperti olahraga. Remaja broken home mungkin mengembangkan sikap sinis dan ketidakpercayaan terhadap hubungan, baik terhadap orangtua dan pasangan potensial mereka, jelas psikolog Carl Pickhardt, dalam artikelnya yang berjudul “Parental Divorce and Adolescents” yang diterbitkan pada Psychology Today.

Dinamika Keluarga

Menuru hakikatnya, perceraian tidak hanya mengubah struktur keluarga, namun juga dinamikanya. Bahkan jika Anda dan pasangan Anda memiliki perceraian secara damai, hal itu hanya menciptakan dua rumah tangga baru yang secara permanen mengubah interaksi dan peran keluarga. Berdasarkan pengaturan kehidupan yang baru, anak-anak Anda mungkin perlu melakukan beberapa tugas rumah tangga dan mengambil peran tambahan dalam fungsi dasar rumah tangga baru.

Selain itu, pada beberapa keluarga yang bercerai, anak sulung akan mengambil peran orangtua bagi adik-adiknya, karena jadwal kerja orangtua mereka atau ketidakmampuan orangtua untuk selalu hadir di sisi mereka seperti sebelum terjadinya perceraian.

Terlebih, anak broken home di usia 18-22 tahun kemungkinan dua kali lebih besar untuk memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua mereka. Kebanyakan dari mereka akan menampilkan tekanan emosional yang tinggi dan masalah perilaku, sehingga banyak dari mereka mendapatkan bantuan psikologis. Sebuah studi oleh Zill menemukan bahwa efek perceraian akan tetap terlihat sekitar 12-22 tahun setelah perpisahan. Penelitian oleh Child Psychology Divorce juga menemukan bahwa anak broken home kurang patuh pada orangtua mereka yang bercerai.

Kehilangan Figur Teladan

Ditambahkan oleh psikolog Ayoe Sutomo M.Psi., anak broken home merasa tidak ada figur dewasa yang dapat diteladani. Hal ini membuatnya mempunyai pemikiran bahwa tidak ada orang yang bisa dipercayai dan dijadikan ‘pegangan’ hidup. Anak kehilangan teladan atas nilai-nilai dalam keluarga yang menjadikannya kehilangan nilai dalam kehidupannya. Ini membuatnya sedih dan jika tidak ditangani dengan baik dan tepat maka anak dapat merasa kesepian, frustrasi, dan sensitif

Nah itu tadi beberapa dampak broken home pada anak yang dapat terjadi, tentu saja kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Peran orang tua akan berpengaruh penting dalam perkembangan anak.